Om Purwantu Iswara Dewam
Om Utarantu Wisnu Dewatam
Om Neritiam Rudra Dewatam
Om Pascimantu Maha Dewa Dewatam
Om Gniyantu Maheswara Dewam
Om Ersanyantu Sambu Dewatam
Om Wayabyantu Sangkara Dewam
Om Madyantu Siwa Dewatam
tesis saya
Jumat, 20 Januari 2017
Minggu, 27 Desember 2015
mantram puja pitara
om... atma tattwatma naryatma swaha.
om... swargantu, moksantu, sunyantu, murcantu, nirwantu, nirmalantu, sredamtu, swamertantu, sanggarahitamtu, satyalokamtu, winayakamtu, amor ring acintya.
om... ksama sampurna ya namah swaha.
om... swargantu, moksantu, sunyantu, murcantu, nirwantu, nirmalantu, sredamtu, swamertantu, sanggarahitamtu, satyalokamtu, winayakamtu, amor ring acintya.
om... ksama sampurna ya namah swaha.
Sabtu, 26 Desember 2015
A.Md, SP, SPd.H, CH: TUGAS KOMPILASI PEMIKIRANKOMUNIKASI AJARAN AGAMA H...
A.Md, SP, SPd.H, CH: TUGAS KOMPILASI PEMIKIRANKOMUNIKASI AJARAN AGAMA H...: TUGAS KOMPILASI PEMIKIRAN KOMUNIKASI AJARAN AGAMA HINDU D I S U S U N O L E H NAMA : IDA BAGUS BENNY ...
Sabtu, 21 November 2015
kajian lontar
iii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN
JUDUL.............................................................. i
DAFTAR ISI ...................................................
..................... ii
KATA PENGANTAR
.......................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
......................................................... 1
A.
Latar
Belakang ........................................................ ……. 1
B.
Fokus
Penelitian ... .............................. ..
................. 6
C.
Rumusan
Masalah
.................................................. 7
D.
Tujuan
Penelitian
.....................................
................ 8
E.
Manfaat
Penelitian .................................................... 9
F.
Kerangka
Berfikir .................................................... 10
BAB II LANDASAN
TEORI ............................................ 14
A.
Model
Komunikasi Hindu Sadharananikarana ....
14
B.
Teori
Simbol dan Mitos............................................ 35
C.
Eori
Fungsional dari B Molinowski ...................... 38
D.
Teori
Realitas yang Sakral dari Merccea Elliade 40
E.
Teori Intrasionisme Simbolik
.............................. 42
BAB III METODE PENELITIAN ................................. 45
A.
Lokasi
dan Waktu Penelitian ................................. 45
B.
Jenis
dan Sumber Data ........................................... 45
C.
Penentuan
Informan ............................................... 45
D.
Instrumen
Penelitian ............................................... 46
iv
E.
Metode
Pengumpulan Data ........................................ 46
F.
Teknik
Analisa Data ................................................... 48
DAFTAR PUSTAKA
............................................................ 49
ii
KATA PENGANTAR
Atas Asung Ketha Waranugraha Ida
Sang Hyang Widhi Wasa, penulis dapat menyelesaikan Proposal Tesis Penelitian yang berjudul “Studi Tentang analisis Isi Komunikasi dalam Lontar Tutur
Rare Angon Berkaitan Dengan Pembangunan Karakter Bangsa “ Adapun isi dari lontar Tutur Rere Angon ini adalah pengetahuan
tentang dharma dari aliran Siwaistik,
mengenai ritual (upacara dan Upakara ) Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa
Yadnya dan Bhuta Yadnya. Proposal
Tesis ini ditulis bertujuan untuk memenuhi sebahagian syarat-syarat mengikuti
Mata Kuliah Kompilasi Pemikiran Komunikasi Agama Hindu II,
Penelitian dan Pengkajian sastra
Hindu yang masih digunakan dalam kehidupan
beragama di Bali dan lombok.
Dapat tersusunnya Proposal Tesis ini berkat dorongan dan bimbingan dari
beberapa pihak, untuk itu penulis
ucapkan terimakasih kepada :
1.
Bapak Prof.
I Ketut Widnya
Sebagai Dosen Pengampu Mata kuliah Studi
Agama Hindu
Pada Program Magister ( S2 ) Komunikasi Hindu STAHN Gde Pudja Mataram.
2.
Semua pihak yang tidak dapat penulis sebut satu persatu yang telah
membantu, penulis samapaikan terimaksaih.
Peper ini tidak sempurna karena keterbatasan pengetahuan penulis dan kekurangan daftar pustaka untuk itu saran dan
kritik yang sifatnya membangun penulis sangat harapkan.
Mataram, Juni 2015
Penulis,
I GUSTI BAGUS ARI SUTISNA
NIM : 14121107
I.
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Lontar Rare Angon ini tergolong lontar yang tikak
terlalu tua umurnya. Hal ini tampak dari tidak adanya teks Sansekertanya yang digunakan
adalah bahasa kawi dan bahasa Bali, namun lebih banyak uraiannya dalam bahasa
kawi dan keadaan teksnya cukup baik.
Isinya adalah percakapan atau mengandung benih-benih komunikasi Ajaran
Hindu tentang Dharma, dengan metode
dialog, sebagai tokoh sentra dalam Lontar Rare Angon adalah Dewa
Siwa yang mewujudkan diri-Nya sebagai Rare Angon atau seorang
anak sedang mengembalakan lembu. Dengan demikian Lontar Rare Angon adalah
tergolong ajaran Siwaistik. Kejadian dalam cerita ini adalah di daerah
pegunungan disebut Giri Windhya. Dalam mitologi Siwa Tattwa, Dewa Siwa berstana di Gunung Maha Meru.
Dilain pihak ada dua orang Bhujangga (Wiku )
bersaudara yang sedang bertapa di Gunung Jantuk, bernama Si
Tahak dan Si Tuwek. Kedua Bhujangga tersebut menginginkan
lembunya Rare Angon, karena tidak bisa diminta atau di beli maka
lembunya Rare Angon di ambil paksa, sebelumnya Rare Angon harus di bunuh. Disini ada ajaran dharma tentang ahimsa
karma.
Setelah Si Rare Angon di potong
lehernya, maka dari atas mayat Rare Angon muncul Dewa
Siwa, memberikan ajaran tentang dharma dan
2
tatatining melaksanakan upacara ( ritual ), Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, Bhuta Yadnya.
Dalam kehidupan beragama serta mendalami
ajaran-ajaran agama Hindu, dengan menggunakan pendekatan rasional-filosofis dalam
upaya menembus kegelapan sebagai kungkungan dari dogmatisme, dengan
menggunakan kajian sastra agama yang terhimpun dalam berbagai pustaka yang ada
di Bali dan Lombok. Dalam kritik ini pula patut disadari betapa pentingnya
bentuk-bentuk upacara dan upakara agama Hindu mendapat kajian
saksama dalam pelaksanakan upacara tertentu.
Disamping itu dengan pengkajian itu pula
dapat diketahui makna yang bersifat konsepsi dan makna yang bersifat
tradisi. Konsepsi merupakan suatu ajaran
konseptual yang patut dijadikan pegangan atau dijaga keajegannya,
sedangkan tradisi dapat menyesuaikan dengan kondisi yang ada.
Berdasarkan latar belakang tersebut di
atas, penulis merasa tertarik dan penting untuk mengadakan pengkajian, guna
membedah Lontar Rare Angon , sebagai salah satu Lontar yang masih digunakan sebagai
pedoman upacara oleh umat Hindu di Bali dan Lombok serta mengadung
benih-benih komunikasi Hindu.
B.
Rumusan masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat di rumuskan permasalahannya
adalah sebagai berikut :
1.
Ajaran Apa yang
terkandung dalam Lontar Rare Angon ?
2.
Bagaimana Proses
komunikasi tentang ajaran Siwa kepada Bhujangga (umat Hindu)
3.
Makna apa yang terkandung dalam Lontar Rare Angon
3
C.
Tujuan
Tujuan disusunnya peper ini adalah :
1.
Pengkajian ini adalah
Bertujuan untuk mengetahui ajaran apa yang terkandung dalam Lontar Rare Angon.
2.
Pengkajian ini adalah bertujuan untuk
mengetahuai bagai mana proses komunikasi yang terjadi dalam Lontar Rare Angon.
3.
Pengkajian ini bertujuan
untuk mengetahui makna apa yang terkandung dalam Lontar Rare Angon.
4.
Pengkajian Lontar
Angon adalah bertujuan Untuk memenuhi sebahagian syarat-syarat
mengikuti Mata Kuliah Kompilasi Pemikiran Komunikasi Agama Hindu I, Program Magister ( S 2 ) Ilmu Komunikasi
Hindu pada Sekolah Tinggi Agama Hindu
Negeri (STAHN) Gde Pudja Mataram.
D. Manfaat
Penulisan
Setelah
suatu kegiatan pengkajian ini diharapkan dapat memberi manfaat, baik
perorangan, masyarakat maupun lembaga yang berkompeten. Demikian juga
pengkajian ini diharapkan memberi manfaat teortis maupun manfaat praktik.
1. Dari
Pengkajian yang dilakukan, diharapkan pengkajian ini dapat menambah Pengetahuan
dan pengalaman wawasan kegamaan bagi penulis atau umat pada umumnya.
2.
Bermanfaat bagi Lembaga
Keagamaan Hindu, Generasi muda Hindu bahkan bagi Pemerintah,.
3.
Sebagai dasar pemikiran
untuk menyusun Ilmu Komunikasi Hindu, karena sampai saan ini belum ada khusus
buku yang membahas Komunikasi Hindu.
4
II. TEKS
DAN PEMBAHASAN ISI LONTAR
A. Teks
Lontar Rare Angon
“Om Awighnam astu Nama Sidhyam”
“Nihan
tata kramaning Rary Angon, duksira atapa ring Giri Windya, Iku Sang dadi Hyang,
satata gawenya engwan mahisa, katattwan
nikang, sattwa dharma,nga; Asuwe den ira ajar-ajaring Giri Windhya “
“Hana ta Bhujangga rwa sanaknya, apuspata si
Tahak mwang si Tuwek, atapa ring Gunung Jantuk,
mahas ta ya amengameng tanwa kapangguh tekang Rary Angon, anunggang
mahisa, hantyan ta gong nya, kapengin manah kang Bhujangga kalih, ri
kahalepan ikang mahisa, iku tan wenang
hinret hyunya, mojar tayeng harinya, uduh yayi, angapa denta , tuminghali Rary
Angon, tan pahi nikang rare, menggep bhawanya kukuncung angklang caluk,
asungluh salaka tambra, mwang timah wesi den sarwa ngagem cemeti, tununtungan
lawe tridatu, kinamba lan helar ning mayura, tinebusin wesi putih, hatyanta
arsa ning hulun, tumoning mahisanya, kinangan sukha wreddhi, aheed suddhamala,
kinalungan patawala, kinembangan kaya
unggah ning pati kredhap, tinuntunan lawe tri warna”
“sumahur
ta harinya, tuhu kaka mangkana, paran
mangke, sumahur Si Tahak, Harsani Nghulun humandhega ikang Rary Angon . Bhoh
rare iki, pangher kakinta sekareng, mandeng ikang rare, angrungu sabdaning
Bhujangga, Ih Rare ki, dak pinta mahisanta iku kaki, yan tan
paweh, ngong tumbasanan, sewu pitungatus; Humeneng tekang ikang rare tan sumahur, masengit tikang Bhujangga kalih,
matangyan palo citta lawan
harinya, majar Si Tahak ; mapa denta
yayi, humalap kang mahisa, apan tan
paweh sapina akunta, ndan karepi
nghulun, walata juga kenanya, amejahana ikang rare, sumahur harinya; Uduh kaka, tan yogya
ngulahana mangkana, yan kadi kita ingsaka ngaranya, apan kita
5
huwus wiku; Sumahur Si
Tahak, taha iku yayi, apa hinentasaken atmanig sarwa winuduh, haywa kita
sangsaya, mejahen ikang Rary Angon, hulun humentasaken atmanya marapwan tan
hana wighna kapanggih denta, mangkana ling Si Tahak; Amingsinggih ta harinya,
aselimpet hireng, neher anguwung, tumandang ta ya pareng, sumikep ikang
Raryangon, tur binandha-bandha, neher
tinugel gulunya, pegat ikang Rayangon.
“
Tadanantara, mijil tikang teja sakeng
gulunya sawa, lumbra kalangan prabhaswara, ring tengah hana Dewa Murti, mawaraha ya ta Sang Hyang Siwa, naman nira, kaweran
tambek nirang Bhujangga kalih, tuminghali Sang Hyang mijil sawa, gelis
denya manembah; sambya ngastuti asasonteng ping 7 ngganya nembah; Ling ning
Hyang, He Tahak Tuwek, kita Bhujangga rwa sanak, aku dewa murti ning Rare Angon
aku ta Hyang ning Kayangan, an Rare Angon wuwus ku, apan kita mawak dedukun,
wenang kita amarahaken sopakara, tingkahing
amras, akihis, haywa kita tan prayatna, haywa kita tan pangastitya kang
Rare Angon, anghing ri kalanta angarepaken pawiwahan agung, lwirnya : tatani
aluh, apekod, sakalwiring karya nistha madhya uttama, kengetakena haywa lupa,
yang hana wwang akarys angihis, ring parahyangan Dewa, mwang kabhuyutan, ring
cungkub, ameta tukang rumuhun, angarepaken panyanyan ring dewa, dudukun ika
kang yogya angratengaken caru ring luhur, mwang ring sor, marapwan trepti,
mwang sorohan, saji, apan yadnya patni katatwaning daksina,lwirnya ; ring
tukang, mwang ring dadukun, angresyak, anegteg, amulung, atakir limas,
kengetakena kapwa dulurana daksina,
sowang-sowang, daksina ning amungku ika, daksina ning angresyak, jinahnya 5055,
beras 5 catu, lawe 5 tukel, byu 5 ijas, taluh 5 bungkul, mwang kampuh
saparadeg. `
Mwang
banten paturon genep seprekara bhebanten wijinen kang daksina, mwang daksina
ning dudukun angareping swakaryane, 888855 , bras 5 catu, nyuh 5 bungkul, taluh
5 bungkul lawe 5 tukel, genep kramaning daksina, mwah pamereman dena genep.
Mwanh
daksinaning Bhujangga, ngrayuning, 88855, pangajengan mwah
hajengan mentah, seprekara dan genep, tan kari
6
banten paturon, kampuh
saparadeg, mwang lungka-lungka, pajeng, kakosor, kakasang,menyan astanggi wrat
200;
Mwah
banten karya, angupakara bras kang ginawe bebanten ngaturan penyanjan, mwah
ring pangingsahane, rekaakena kang beras, jinah pangrekannya 108, pinalih
lanang istri.
Malih
jinah palinggih I Dewa Cili dateng 211, mwah palinggih I Dewa Cili 211, pamuket
bras ika reka dening janur nyuh gading sya (9) lembar, tulisakena sastra iki :
Lumekas
ta mpungku amuja, mratisthakena babu swi, kunang ikang gegaluh, saha bagya pula kerti, pula
sakadaton, kadi nguni, pujakena, lisana, tepung tawarin.
Wus
mangkana, ta gawe pemendak siwi, tingkahnya; Bagyapulakreti mwang pula
sakadaton ika, tinuntunan rejang, tinalenan lawe tri warn a, mwang Dewa
sedhana, Dewa Nini, mwang panging dadap
canggah tiga (3), tan kari gegaluh, sehampilan, dinulurin twek, payung pagut,
mwang cendhek saupacara, tekeng papadha,
katuring Hyang Kabuyutan, angadegang Raryangon, anuntuna mahisa, sopakara kadi
nguni, mwang artha pada ning kebo, wrat 200, daksina winadaha tamas 4, beras,
taluh padha asiki (1), jinah padha 200, dinuluran hunyan-hunyan.
Mwah
ikang Bhujangga ngraynin, kong lumekas amuja ring paryangan, amrethitaakena
gegaluh ring sanggar mwang hampilan, dulurakena pamuja, saha sembah,
papendhetan, canang oyodan, mwah canang cane, jaja den agenep.
Yang
wus mangkana, wenang gumelarakena caru bhuta yadnya kramaning mapadha, saha
madhana-dhana, i telas mangkana, anuli malasti ring segara kading prelagi.
Kunang
ri tekaning dina swakarya makihis, ta gawe sanggar tawang, banten suci den
agenep, sekadi caru ring sor tan kari banten ring kabhuyutan; kunang ikang
sanggar tawang, lamakakena wastra cepuk, nisthanya. Madhyanya patola bang, ring utamanya patola sutra; utamaningutama pitawala/patola
sutra pinaradha, riwusing swakarya wastra ika kahatur ring sang angajengin
swakarya, tekeng daksina kabeh,
7
padha kehatur ring sang
angamong karya. Yan tan samangkana, byakta tan siddha ikang karya, tan
kawulatana den watek Dewata.
Kunang
maka tattwaning mahisa, yang ring jawa dwipa, maka tungganganing watek dewata
lumaku nangkil ring parhyangan Bhatara ring gunung Semeru; kunang yan ring Bali
rajya, atmaning kebo ikang winuduh, pinaka tunggangan ning watek Dewata
anangkil ring Gunung Agung, pomo ingetakena haywa marlupa.
Mwah
ri tutug tigang rahina, angremekin swakaryanta banten suci den agenep, munggah
ring Kabuyutan, kaya sopacara ning dangu, rikalaning amangkring sanggar
tawang,ring kabuyutan, mwang laywaning kembang gegaluh, tekaning mis,karyanta
kabeh ring parhyangan, pada pupulakena, haywa wiwor den hanut nistha madhya
uttamanya, anuli bhinasmi, kinasturi kang puspa; wus mangkana pinuja de sang
Bhujangga, sang angrayunin swakaryanta, dudukun wenang, ingulihakenn ring sapta
patala, wusing amuja, turunakena ikang puspa, anuli pinendem ring loring
parhyangan, uttama dahat duluranan kawangi.
Mwah
sopakaraning banten jinahnya, telas kahatur ring tukang, mwah ring dedukun,
dulurana wastra rong peradeg, mwang tiyuk 2, wekas ning pamulu, nga. Sabagya
yan dulurana ratna, uttama dahat, karyanta.
Mwah
kita Si Tahak , Si Tuwek, apan kita wruh ring tataning kayra ka panca yadnya,
kita anggurwaning ngke ring madhya pada, lwirnya :
Andewa yadnya ta
prayam, Angresi yadnya tandado, Ambhuta yadnya surayam, manusa yadnya taleteh.
Ngaranya : Adewa
yadnya, Udhang muka,ca, dasa amasta.
Ambhuta yadnya, daksina
muka, ca, kang amuja, Manusa yadnya, pascima muka, ca, tinuting ajapa-japa.
Angesi yadnya uttara muka, ca, kang amuja. Yatika tan wenang amuja tungleh,
mwang paniron.
Mwah
hana wenang kaweruhana den ta, maka purwaka ning sasamuhan, pangreka nira
Bhagawan Sukra nguning atitia, sakrama ning suci kabeh, muksa Bhatara Siwa,
tekeng mahisa tanpajamuga, wus
8
mantuking sunyata,
sukha ambek ikang Bhujangga kalih, padha mulih bhyantitan.
Nihan
kramaning saji-saji ling Bhagawan Sukra; kengetaken, aywa tan panuting krama,
den prayatnaakena kita sang ataki-taki, agawe karya rahayu, maka siddha ning
karya pamahayu bhuana, parincianing saji
banten.
B.
Pembahasan
Dalam
pembahasan ini penulis menterjemahkan secara bebas isi Lontar Rare Angon
kemudian, menganalisis maknanya.
Setiap
awal penulisan sastra dalam lontar, pasti diawali dengan do’a Ya Tuhan semoga
tidak ada halangana dan berasil. Makna
dari do’a ini adalah setiap mengawali suatu kegitan atau pekerja terlebih
dahulu mohon Wara Nugraha dari Tuhan supaya dijauhkan dari halangan dan
semoga apa yang di harapkan mencapai tujuan.
Dalam
lontar ini diceritakan tentang Rare Angon, yang sedang bertapa di
Gunung Windhya, disana menjadi Dewa, selalu pekerjaannya
mengembalakan lembu. Cerita ini tentang dharma namanya. Lama beliau memberikan
pelajaran di Gunung Windhya.
Dalam Cerita Rare
Angon, Dewa Siwa Turun ke dunia memberikan ajaran kepada umat manusia
tentang dharma, beliau berujud anak kecil yang sedang mengembalakan
lembu. Makna mengembala disini adalah menuntun umat manusia kejalan dharma, sedangkan lembu itu sendiri
adalah wahana/ kendaraan Dewa Siwa.
Dalam Lontar Rare Angon diceritakan juga
ada dua orang Bhujangga (Wiku/Pandita dari penulis) bersaudara, bernama Si
Tahak dan Si Tuwek, yang sedang bertapa di Gunung Jantuk, kedua Bhujangga
tersebut sedang berjalan- jalan
dan bertemu dengan Rare Angon, yang sedang menaiki
lembu. Kedua Bhujangga tersebut sangat kagum dan mempunyai niat untuk
memiliki lembu tersebut serta tidak dapat ditahan keinginannya, bertanya Si
Tahak kepada adiknya ( Si Tuwek), duh adikku, kenapa
denganku, melihat Rare Angon sangat berwibhawa, dandanan
9
rambut seperti Pandita
(magelung user dari penulis), dan terselip dipinggang sebuah caluk
( sabit besar), dengan tangkai perak
timah dan besi serta memegang cemeti (pecut), menuntun lembu dengan tali
benang tri datu ( merah,
putih dan hitam), juga memegang bulu burung merak, di ikat dengan benang putih,
Si
Tahak menginginkanya, Rare Angon sambil bernyanyi kidung kematian, dan
pegang benang tridatu/ tiga warna. Makna benang tiga warna yaitu merah simbol
Dewa
Brahm, Putih sombol Dewa Iswara dan Hitam simbol Dewa Wisnu. Sedangkan
bulu burung merak adalah simbol kewibawaan, serta caluk sudamala bermakna
pembuka jalan ini biasa digunakan pada upacara kematian menuju kuburan berjalan
paling depan berfungsi pembuka jalan
secara niskala.
Benih-benih
komunikasi Hindu dalam Lontar Rare Angon sangat jelas,
karena ada tiga pihak yang berkomunikasi, dengan metode dialog, metode ini
sebagian besar digunakan oleh pengawi, untuk menyampaikan ajaran dharma,
ini dapat dilihat dari berbagai sastra sebagai contoh : dalam Bhagavadgita (dialog Kresna dengan
Arjuna. Lontar Wraspatitattwa dll).
Siwa
menampakkan dirinya dengan berujud Rare
Angon, dan kedua Bhujangga mempunyai keinginan untuk
memiliki apa yang di miliki oleh Rare Angon. Sehingga akan timbul
komunikasi verbal, kepada ketiga pihak tersebut. Dalam Mahabaratha Siwa menunjukkan diri kepada Arjuna
dalam wujud Pemburu saat Arjuna bertapa di Gunung Idrakila, Siwa
Turun untuk memberikan anugrah senjata Pasupati kepada arjuna, sedangkan
dalam lontar Rere Angon, Siwa Turun
untuk memberikan ajaran dharma.
Terjadi
percakapan kedua Bhujanga tersebut,
atas pertanyaan kakaknya adiknyapun menjawab, betul demikian kakak, bagai mana
sekarang keinginanku, memjawab Si Tahak, Demikian keinginan Si
Tahak , dan Rare Angon berenti sejenak, mendengar percakapan kedua Bhujangga
tersebut, menurut Si Tahak, Rare Angon
polos, Si Tahak meminta lembunya Rare Angon, kalau tidak dikasi minta
beli dengan harga 1700, Rare
Angon diam , maka marahlah kedua
Bhujangga
tersebut, berbicara dengan adiknya Si Tuwek , lembunya akan di minta
paksa, karena tidak diberi walaupun dengan cara
dibeli. Direncanakan Rare Angon akan dubunuh, dan
dilarang oleh adiknya untuk membunuh karena ahimsa
10
karma
namanya, dijawab oleh Si Tahak, karena kedua Bhujangga itu adalah Wiku
/ Pandita wenang angentas/melepas atma yang ada, dan jangan ragu, tidak
ada dosa didapat demikian kata Si Tahak, mempersilahkan kakaknya,
kemudian kedua Bhujangga melepas pakiannya, diganti dengan kain poleng dan
merah, serta meselimpet hitam ( kain silang didada ), berteriak mereka berdua, Rare
Angon melipat tangan di dada, dan dipotong leher Rare Angon sampai putus.
Dari
teks ini ada komunikasi atara 3 orang yaitu Rare Angon, Si Tahak dan Si
Tuwek, Si Tahak menginginkan lembunya Rare Angon, dengan cara
diminta atau di beli, tetapi tidak diberikan oleh Rare Angon. Disini ada
ajaran jangan memaksa milik orang lain apa lagi sampai membunuh, ada ajaran ahimsa
karma, disini juga ajaran tentang Wiku yang wenang mengentas atma.
Setelah
dipotong leher Rare Angon tiba-tiba muncul sinar dari kepala mayat Rare
Angon, menyebabkan terang bendrang, ditengah-tengahnya muncul Dewa
Siwa Murti, kemudian beliau bersabda, kedua Bhujangga mendekat dan
mengaturkan semabah, dengan puja tutjuh kali kepada Dewa Siwa. Sabda Dewa
Siwa hai Tahak dan Tuwek
Bhujangga
dua bersaudara, akau adalah Dewa Murti dari Rare Angon ( Dewa Siwa),
aku turun dari kayangan, dengarkanlah sabdaku, apan anda sebagai dudukun
(pengrajeg
karya /yajamana ), harus paham tentang upacara ameras, hakihis,
jangan sampai tidak tanggap, jangan sampai tidak mohon waranugraha dari Rare Angon, pada waktu upacara
wiwaha agung, dan semua upacara tingkat nista (kecil),
tingkat madhya (sedang) dan tingkat uttama ) beaar,
ingatlah selalu, kalau ada upacara di pura, di merajaan.
Ring cungkub, carilah tukang terlebih dahulu, untuk menghadapi dan
merencanakan upacara ke dewa ke sor (kebawah sejenis caru
) yang mempunyai kewenangan adalah dudukun
karya (pengrajeg karya ). Supaya lancar jalannya upacara jangan sampai
tanpa daksina, karena daksina
adalah yadnya patni
(kekuatana dari yadnya/ saktinya
yadnya ), yang wajib mendapatkan daksina adalah tukang banten,
pengrajeg karya (duduku), uang
daksina tersebut 5055, beras 5 catu, benang 5 tukel, pisang 5 sisir,
telur 5 biji, lengkap yang namanya daksina. Daksina dalam hal ini
11
mempunyai beberapa
makna yaitu sebagai persembahan, sebagai penghormatan dan sebagai upah.
Munculnya
Dewa
Siwa dari mayat Rare Angon, kedua Bhujangga
mengaturkan sembah, kemudian terjadi komunikasi antara Dewa
Siwa dan Bhujangga, Sabda Dewa Siwa, setiap melaksanakan
upacara
dalam tingkatan nista (kecil ), tingkat madaya (menengah ) dan
tingkat utama jangan lupa ngadegang Rare Angon supaya upacara
yadnya dapat berjalan dengan
lancar. Bila umat akan melaksanakan upacara tukang banten lah dicari pertama
kemudian pengrajeg karya. Setiap upacara
tingkat kecil, tingkat sedang dan tingkat
besar, selalu wajib ada daksinanya, karena sakti
/ kekuatan dari upakara adalah daksina (yadnya
Patni ). Daksina dalam hal ini mempunyai beberapa makna yaitu sebagai yadnya patni (kekuatanan yadnya/ulu
yadnya atau kepala ), sebagai penghormatan, dan sebagai upah, isi daksina
dengan ketentuan seperti di atas.
Banten
pada ayaban
lengkap dan daksina pengrajeg karya 88855, beras 5 catu, kelapa 5 buah,
telur 5 biji, benang 5 tukel. Daksina bagi pengrajeg
karya lebih besar volumenya dari tukang banten terutama uangnya.
Pengrajeg
karya atau sang yajamana, mendapatkan pengormatan dengan berikannya daksina, punya yang ada pada daksina
pengrajeg karya lebih besar dari punya
tukang banten, ini disebabkan tanggung jawab pengrajeg karya lebih
besar.
Sedangkan
daksina
Bhujangga / wiku Manggala Upacara daksinanya,88855, rayunan mentah (atos )
lengkap, serta berisi punya berpa kampuh( kain seperadeg), lunggka (kasur
tempat duduk), payung, kekasang, arum-aruman (wangi-wangian ). Selain sesari Uang juga dilengkapai punya , ini pengormatan kepada sang
muput yadnya, agar yadnya itu dapat berasil dengan baik, Bila tanpa daksina
kemungkinan yadnya tidak berasil, kalau berasil sang muput yang mendapat pahala
(mahabharata
Aswamedha Yadnya ). Penghormatan terhadap Manggala upacara (wiku)
pemuput juga lebih tinggi dari pangrajeg karya, hal ini karena manggala upacara
sebagai pemuput yadnya yang bertanggung jawab sekala dan
niskala.
12
Pada
upacara
negtegan beras, juga dilakuan upacara ngingsah, setelah beras di ingsah (beras dicuci )
kemudian direka ,yaitu beras
yang sudah dicuci dibentuk seperti manusia, dua buah yaitu laki dan perempuan,
dengan uang bolong pengrekaan 108. Buat daksina Linggih 1 buah, memakai cili dan mesesari uang bolong 211. Makna dari pada ngingsah
atau menyucikan sarana yang akan dijadikan bahan upacara adalah, mohon
tirtha amertha,
sebagai simbolisasi pemuteran Gunung Mandara Giri pada Adi
Parwa, keluarlah amertha. Air dari hasil ngingsah tersebut dipakai menyucikan tempat
pedagingan di pelinggih dan di ketiskan (siratkan ) di pelemahan
tempat upacara, sebagai
simbol penyucian.
Setelah
selesai upacara pengingsahan, kemudian
dilakukan upacara pemendak Siwi, Siwi artinya
jungjungan Siwi berarti Siwa/ Tuhan
, Ngadegang Ida Bhatara, Dewa Nini (dewa Sri), Dewa
sedana
(dewa arta benda ), penuntunan yang digunakan adalah
carang dapdap cabang tiga dan diikat dengan benang tridatu, Carang dapdap
adalah kayu sakti atau tongkatnya Siwa, cabang tiga bermanka Siwa bermata tiga, juga dilaksanakan
melaspas Bagyapula kerti, diiring tarian rejang, dilengkapi dengan
alat-alat upacara yaitu tombak (bandrang)
lelontek, payung pagut, keris dan alat upacara lainnya.
Makna dari upacara
ngadegan dan mendak siwi adalah utpeti
atau menstanakan
para Dewa.
Bagya
pula kerti, Bagya artinya bahagia, pula artinya
menanam, kerti artinya perbuatan
atau karma, jadi bagya pula kerti maknanya
adalah perbuatan yang baik akan mendapatkan /pahala kebahagiaan.
Pada saat ini juga dilaksanakan upacara ngadegang Sanggar Rare Angon
agar yadnya
yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik atau berasil atas Waranugraha Rare
Angon.
Setelah
selesai upacara mendak Siwi, dan upacara ngadegang maka dilanjutkan
dengan Manggala Upacara munggah
mapuja, didahului dengan penyucian lingkungan dan serana upacara semua, dengan upacara
(Bhumi Sudha).
Dilanjukan
dengan mepadha tawur, yaitu upacara penyupatan wewalungan
/binatang yang akan dijadikan caru. Wiku
/mangala upacara yang memimpin upacara mepada menyucikan wewalungan
dan
13
mengantarkan roh wewalungan
/binatang ke tempat masing-masing,
dengan puja sang Sulinggih, yaitu binatang kaki dua ketimur ke Hyang
Iswara, binatang kaki empat ke selatan ke Hyang Brahma, binatang
yang berjalan dengan dada ke barat ke Hyang Maha Dewa, binatang yang hidup
di air ke utara ke Hyang Wisnu, yang berkaki banyak ke tengah ke Hyang
Siwa. Manggala upacara mendoakan binatang tersebut apabila kalau
terjadi punarbawa nantinya agar lahir menjadi wiku sakti. Setelah upacara
bhuta yadnya dilanjutkan dengan upacara melasti kesegara. Makna
upacara melasti yang dijelaskan dalam Lontar Swamandala dan Lontar
Sundarigama, yaitu menganyutkan kekotoran alam semesta termasuk
kekotoran badan manusia (bhuana alait ) , dan mohon air
kehidupan di tengah samudra ( anganyut
aken papaklesaning bhuana angamet sarining amertha ring telenging segara ).
Pada
puncak upacara pelaksanaan yadnya,
sangar tawang atau sanggar pesaksi munggah banten suci dan
perlengkapannya, dihiyas dengan kain Bali (cepuk) makna nista, Patola Merah bermakna (madya ) Kain sutra bermakna (Utama
) dan sutra diprada bermakna (utamaning utama ). Semua upakara dan perlengkapan di sanggar tutwan,
yaitu daksina, setelah selesai upacara
diberikan kepada Pengrajeg karya, sebagi simbol penghormatan. Bila tidak
dilakukan maka yadnya tidak sukses ( tan sida ikang karya ).
Diceritakan
tentang lembu, kalau di Jawa, lembu adalah kendaraan (wahana ) para Dewata
untuk pergi ke parayangan Bhatara di Gunung Semeru.
Sedangkan di Bali, atmanya lembu/kerbau,
sebagai kendaraan para Dewata untuk pergi ke Gunung Agung,
demikian jangan lupa. Lembu atau mahisa adalah kendaraan Dewa Siwa.
Pada
hari ketiga Setelah puncak upacara
, dilaksanakan upacara ngremekin, upakara
yang dipersembahkan di pelinggih pesaksi,
Suci dan kelengkapannya. Serta dipelinggih lainya juga mugah
banten. Setelah selesai upacara ngremekin, semuaa layuan
(bunga ) bekas upacara dikumpulkan dan di bakar,
abunya dimasukan dalam kelungah kelapa gading yang dikasturi,
kemudian dibungkus dengan kain putih serta isi kwangen dan tanam di
belakang pelinggih tempat upacara.
Makna dari
14
upacara ngremikin
adalah mohon kesejahtraan (kesuburan), remekan artinya pupuk yang membuat
subur tanaman, ditanam dimasukkan kebumi/tanah agar tanah menjadi subur. Dengan
suburnya tanah semua yang ditanam akan mengasilkan, untuk kesejahtraan manusia.
Sebagai
ucapan terimakasih kepada tukang banten
dan pengrajeg karya,
di berikan punya berupa sesari, kain seperadeg ( satu setel), pisau 2 buah, dan apa bila ditambah permata
sangat utama. Hal ini dilakukan untuk
penghormatan dan menjaga hubungan baik serta sebagai sarana ikatan batin
dan memudahkan komunikasi selanjutnya bila ada upacara lagi.
Dewa
Siwa Bersabda , karena sekarang Si
Tahak dan Si Tuwek, sudah paham tentang upacara panca yadnya,
maka mempunyai kewajiba mengajarkan kepada umat manusua di dunia ini, yaitu :
tentang upacara
Dewa Yadnya, Rsi
Yadnya, Bhuta Yadnya,Manusa Yadnya.
Tata cara manggala
upacara waktu mepuja yaitu jika upacara Dewa yadnya manggala
upacara menghadap ke Timur, bila memuja upacara Bhuta yadnya, manggala upacara menghadap selatan,
bila memuja upacara manusa yadnya manggala upacara waktu memuja menghadap barat dan memuja upacara
Rsi yadnya manggala upacara menghadap utara. Upacara Dewa Yadnya dan
upacara Rsi yadnya manggala upacara menghadap ke ulu.
Yang dimaksud ulu adalah timur sebagai terbinya matahari dan utara Gunung,
yaitu sebagai Siwa acala (linggih Bhatara Siwa ). Sedangkan upacara
Bhuta Yadnya menghadap selatan, karena selatan menurtut pengideran,
selain tempat Dewa Brahma juga Tempat
Durga rajanya Bhuta kala. Sedangkan Upacara Manusa yadnya manggala
upacara menghadap Barat, barat
tempatnya Dewa Maha Dewa beliau adalah dewaning mule-mule (emas
), maknanya selain mohon penyucian
(samskara ) juga mohon
kesejahtraan.
Untuk
selanjutnya agar anda ketahui, tentang upakara yang lengkap, tentang
sesamuhan dan semua suci belajarlah kepada Bhagawan Sukra, demikian Sabda
Bhatara Siwa. Karena Bagawan
Sukra sudah terlebih dahulu mengetahuinya. Bhatara Siwa Kembali kekayngan.
Selanjutnya dalam lontar
Rare Angon membicaraka tentang upakara yang
15
diajarkan oleh Bhagawan
Sukra. Kepada kedua
bhujangga tersebut. Penulis tidak melanjutkan lagi.
16
III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
uraian dan pembahasan di atas penulis dapat menarik beberapa kesimpulkan
sebagai berikut :
1. Lontar
Rare Angon
tergolong ajaran Siwaistik
2. Siwa
Berubah wujud menjadi pengembala lembu,
untuk memberikan ajaran kepada Bhujangga (Wiku ) yang bernama Si
Tahak dan Si Tuwek.
3. Komunikasi
yang di bangun dalam Lontar Rare Angon antara Siwa sebagai Komunikator dan Si
Tahak dan Si Tuwek Sebagai Komunikan, komunikasi yang terjadi adalah
dengan metode dialog Verbal.
4. Inti
Ajaran yang di sampaikan adalah tentang Upacara Dewa Yadnya, Resi
Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuata Yadnya.
5. Dalam
upacara yadnya agar sukses ngadegan Rare
Angon beserta Upakaranya.
6. Selain
Manggala Upacara (Pemuput Yadnya yang mendapat pengormatan,tidak kalah
pentingnya, Pengrajeg Karya (dudukun/ yajamana
) dan Tukang banten juga mendapat pengormatan dalam Lontar Rare Angon, dengan
memberikan Daksina ( Pengormatan/upah).
7. Dalam
Lontar
Rare Angon jelas sekali diurakan dedudonan yadnya secara berurutan
yang diajarkan oleh Dewa Siwa, yaitu : Mulai dari Nanceb Salon (Ngadegang Sanggar Tutwan ), Negtegan Beras,
Ngingsah, Bhumi sudha, Mapada Tawur, Bhuta Yadnya, Ngadegang/Mendak Siwi,
Mekiyis, Puncak karya, Nganyarin dan Nelun Nyineb Karya ( Ngremekin ).
17
B. Saran
Dari uraian tersebut di
atas dapat disarankan sebagai berikut :
1. Bagi
Pandita/Pemangku
dan Tukang Banten wajib mengetahui isi dari Lontar Rare Angon karena sampai saat ini masih digunakan
rujukan dalam upacara panca yadnya.
2. Bagi
yang berminat, penulis mempunyai teks yang berbahasa kawi akasara latin, dapat
di kopi.
18
DAFTAR
PUSTAKA
1. Transkrif
Lontar Rare Angon
2. Transkrif Lontar Wraspati Tattwa,
3. Transkrif
Lontar Kala tattwa,
4. Transkrif
Lontar Swamandala
5. Transkrif
Lontar Sundari Gama
6. Transkrif
Lontar Bhuana Kosa
7. Transkrif
Lontar Dewa Tattwa.
Langganan:
Postingan (Atom)